Kotabaru Dulu dan Kini: Merunut Jejak Sejarah dan Garis Administrasi Kota

Sejarah Kotabaru
Ditinjau dari sisi sejarah, kawasan tempat tinggal bagi orang Eropa di sekitar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dimulai dari kawasan Loji Kecil, meluas ke jalan Setyodiningratan, Kampung Bintaran, kampung Jetis hingga terakhir di Kota Baru (Darmosugito, 1956). Cornelis Canne sebagai residen saat itu meminta ijin pada Sri Sultan Hamengku Buwana VII agar diperbolehkan menggunakan lahan di sebelah utara kota guna tempat permukiman khusus orang Eropa. Hal ini dilakukan karena jumlah orang Eropa semakin banyak dan Kawasan Bintaran juga semakin sesak. Lahan yang tersedia tersebut berada di sebelah timur Sungai Code (di lahan yang disewa oleh perkebunan tebu Muja-Muju), yang akhirnya dibangun sebagai kawasan permukiman bernama nieuwe wijk (Bruggen & Wassing, 1998 dalam Wahyu, 2011).Kawasan Kota Baru merupakan kawasan perumahan bagi orang Belanda yang dibangun setelah Perang Dunia I, atau pada akhir pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII yaitu tahun 1877 - 1921. Kawasan ini merupakan kawasan yang benar-benar baru dibangun terpisah dari Kota Yogyakarta lama.
Batas Adminitrasi
Kawasan perumahan Kota Baru Yogyakarta secara administratif termasuk Kecamatan Gondokusuman, Kelurahan Kotabaru, Kotamadya Yogyakarta. Secara umum warga Yogyakarta mengenal kawasan Kotabaru sebagai sebuah kawasan perumahan dengan ciri bangunan jaman kolonial Belanda. Kawasan yang pada jaman penjajahan Belanda termasuk kawasan perumahan elit yang hanya diperuntukkan bagi warga Belanda. Kawasan Kotabaru selain bercirikan bangunan langgam jaman Kolonial Belanda batasan wilayahnya meliputi:
a. Batas sisi Utara : Jl Jend. Sudirman
b. Batas sisi Selatan : Rel Kereta Api – Stasiun Lempuyangan
c. Batas sisi Timur : Jl Dr Wahidin
d. Batas sisi Barat : Sungai Code